OMPAS.com - Bayi yang lahir dengan berat badan (BB) di atas 4 kilogram dapat dikategorikan sebagai giant baby. Dalam dunia kedokteran, giant baby
disebut makrosomia. Kemunculan bayi seperti ini disebabkan oleh
beberapa faktor. Pertama, faktor kondisional atau hanya diduga
penyebabnya, semisal orangtuanya memang besar atau karena memang
lingkungannya (faktor gizi) yang memungkinkan bayi mempunyai BB besar.
Kedua, faktor ibu hamil yang menderita diabetes mellitus. Ketiga, faktor
ibu yang mengalami kelebihan berat badan (obesitas), dan terakhir,
faktor ibu mengalami kehamilan lebih bulan.
Yang bermasalah dan
cukup sering terjadi adalah faktor kedua, ibu saat hamil mengalami
diabetes mellitus atau yang biasa disebut diabetes gestasional (diabetes
yang disebabkan kehamilan).
Menit-menit pertama menjelang
kelahiran bayi amat menentukan karena risiko pada bayi “raksasa” adalah
hipoglikemi (kadar gula kurang dari 40). Padahal, hipoglikemi pada bayi
tidak boleh terjadi, karena ancaman yang paling besar adalah bayi bisa
kejang dan hipoksia, ujung-ujungnya merusak otak.
Selain memeriksa
kadar gula pada si bayi setelah dia lahir, dokter juga harus
bersiap memberikan asupan gula pada bayi supaya hipoglikemi tidak
terjadi. Jika kondisi masih dinilai sehat, anak cukup diberi minum gula.
Tetapi jika sebaliknya, dokter akan memberikan asupan gula dengan cara
infus. Biasanya jika tindakan dilakukan langsung pada jam-jam pertama
bayi dilahirkan, setelah dilakukan penanganan seperti itu kadar gula
bayi akan kembali normal. Kejang dan hipoksia tidak akan terjadi.
Selamatlah si kecil dari ancaman kerusakan otak dan organ vital lainnya,
seperti ginjal, jantung, dan pencernaan.
Setelah masa krisis terlewati, apa lagi yang harus dilakukan oleh dokter?Dokter
akan memantau dan meminta orangtua agar menjaga BB bayi untuk tetap di
rentang normal, atau setidaknya tidak membuatnya bertambah besar. Cara
terbaik untuk ini adalah dengan memberikan ASI eksklusif, dan diteruskan
dengan tata laksana pemberian MPASI dan asupan makanan selanjutnya yang
terukur.
Ingat, ASI adalah yang utama karena nutrisinya sudah
sesuai dengan kebutuhan bayi saat itu. Ibu tidak disarankan memberikan
susu formula karena kita tidak bisa menentukan seberapa banyak kebutuhan
ideal si bayi mendapatkan nutrisi dengan susu formula. Protein susu
formula juga susah dicerna bayi sehingga menumpuk di badannya. Jangankan
bayi yang dilahirkan dengan berat badan di atas rata-rata, bayi
normal pun jika diberikan susu formula bisa mengubahnya menjadi bayi
“raksasa”.
Bagaimana agar berat badan giant baby ini tidak “kebablasan”?Berat badan giant baby
harus dikontrol secara ketat. Pertambahan BB tidak boleh lebih dari 1
kg/bulan dalam tiga bulan pertama setelah kelahiran. Tiga bulan
selanjutnya, maksimal penambahan BB-nya 600 gr. Tiga bulan selanjutnya
berkurang lagi, setiap bulannya tidak boleh lebih dari 300-400 gram.
Target tersebut dapat tercapai bila sang ibu memberikan ASI. Tetapi jika memberikankan formula, lakukanlah ASI mix.
Maksudnya, siang si kecil diberi susu formula sesuai dengan takaran
yang dianjurkan dokter. Malam harinya, biarkan si kecil menetek. Tak
jadi masalah jika ASI tidak keluar.
Apa lagi yang perlu diperhatikan dalam merawat bayi besar ini?
Risiko lain dari giant baby adalah
respons imunologinya terlalu hebat, sehingga kalau bayi terkena demam
berdarah (DB), risiko krisisnya lebih tinggi daripada bayi yang respons
imunologinya normal. Karena itu bayi harus dijaga betul kesehatannya
agar jangan sampai terkena penyakit-penyakit akibat bakteri, kuman,
virus, dan sebagainya.
Bayi besar juga rentan mengidap diabetes
mellitus (DM). Karena pada bayi “raksasa”, lemak-lemak dalam tubuhnya
membuat resistensi insulin. Efeknya, tubuh bayi tidak mampu mengolah
gula yang masuk ke dalam tubuh dari makanan atau minuman. Akhirnya, gula
di dalam darah akan meningkat. Dalam jangka panjang, bila BB-nya
dibiarkan terus bertambah tak terkendali, saat masuk usia produktif
kemungkinan akan mengidap penyakit stroke, jantung, dan hiperkolesterol,
cukup besar.
Mengingat risiko gangguan kesehatannya besar, bisakah menghindari melahirkan giant baby?
Bisa
saja. Misalnya, ibu menjaga BB-nya selama hamil dalam batasan normal.
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Asosiasi Kebidanan dan Kandungan
Amerika yang dipublikasikan dalam jurnal Kebidanan dan Kandungan,
mengungkap, ibu hamil yang mengalami peningkatan berat badan lebih dari
18 kg tetap berpotensi melahirkan bayi besar sekalipun dia tidak
mengidap diabetes gestasional. Ini karena ibu hamil gemuk berisiko 4
sampai 12 kali untuk melahirkan bayi besar.
Kelompok paling
berisiko tinggi adalah ibu hamil yang mengalami peningkatan berat badan
lebih dari 18 kg sekaligus mengidap diabetes gestasional, dimana hampir
30% dari kelompok ini melahirkan bayi besar. Sementara ibu hamil
berbobot normal sekaligus mengidap diabetes yang melahirkan bayi besar
jumlahnya hanya berkisar 13,5%.
Selain itu, perlu diperhatikan
bahwa janin yang terlampau besar berisiko mempersulit proses kelahiran,
seperti meningkatkan kemungkinan perobekan atau perdarahan vagina, serta
kemungkinan harus melahirkan lewat operasi sesar. Sementara si janin
sendiri berisiko mengalami "macet" di bahu atau patah tulang selangka
saat proses kelahiran. Oleh sebab itu, usahakan BB ibu selama bersalin
dalam batasan normal sehingga BB anak ketika lahir juga pada kisaran
normal.
Narasumber: dr. I.G.A.N Partiwi, SpA.MARS, ahli kesehatan anak dari RSIA Bunda, Jakarta.
(Gazali Solahuddin)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar